ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR MAXILA DENGAN INTERVENSI MINDFULNESS-BASED STRESS REDUCTION (MBSR) UNTUK MENGURANGI NYERI AKUT DI RSUP KANDOU MANADO
Vandri Draivon Kallo, Julita Legi, Olvin Manengkey, Yosua Aldrin Kaligis, Helda Fatrisia Sosinggi
Jurnal Kesehatan Tambusai December 31, 2025 DOI: 10.31004/jkt.v6i4.52111 (opens in new tab)
Study at a glance
AI-extracted from the abstract| Characteristics | Case study Case report Peer reviewed |
|---|---|
| Sample size | 1 |
| Population | A 19-year-old male patient with a maxillary fracture |
| Intervention | Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) |
| Duration | MBSR 2-3 times daily for two days |
| Measures | Numeric Rating Scale (NRS) |
| Topics | Meditation |
| Key findings | The authors report that MBSR practiced 2-3 times daily for two days, combined with pharmacological and other nursing interventions, reduced acute pain intensity from NRS 6 to NRS 4 in a 19-year-old man with a maxillary fracture, with more relaxed facial expression, improved jaw mobility, independent MBSR practice, and no additional complications. They argue this combination is effective and can serve as a complementary nursing strategy for maxillofacial pain. |
Abstract
Nyeri akut merupakan salah satu masalah utama pada pasien dengan trauma wajah, khususnya fraktur maksila. Penanganan nyeri yang efektif diperlukan melalui kombinasi terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Salah satu teknik nonfarmakologis yang terbukti efektif adalah Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), yang dapat menurunkan persepsi nyeri sekaligus meningkatkan kenyamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan manajemen nyeri melalui teknik MBSR pada pasien dengan fraktur maksila di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus keperawatan terhadap seorang pasien laki-laki berusia 19 tahun dengan diagnosis fraktur maksila. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan meliputi nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik, gangguan rasa nyaman akibat efek terapi, dan risiko infeksi terkait tindakan invasif. Intervensi keperawatan yang diterapkan mencakup manajemen nyeri, pengaturan posisi, dan pencegahan infeksi, dengan teknik MBSR dilakukan 2–3 kali sehari selama dua hari. Hasil penelitian menunjukkan penurunan intensitas nyeri dari NRS 6 menjadi NRS 4, ekspresi wajah pasien lebih rileks, mobilitas rahang membaik, dan pasien mampu melaksanakan MBSR secara mandiri. Tidak ditemukan komplikasi tambahan selama intervensi. Kesimpulannya, penerapan manajemen nyeri berbasis kombinasi farmakologis dan nonfarmakologis, khususnya MBSR, efektif menurunkan nyeri akut, meningkatkan kenyamanan, dan mendukung adaptasi pasien terhadap trauma wajah. Intervensi ini dapat dijadikan strategi keperawatan komplementer pada pasien dengan nyeri maksilofasial.
Comparable studies
Other case reports and case series on meditation, most cited first.
| Study | Year | Design | Participants |
|---|---|---|---|
| Brain sources of EEG gamma frequency during volitionally meditation-induced, altered states of consciousness, and experience of the self Advanced meditator | 2001 | Case study | n = 1 |
| Mindfulness Meditation for Alcohol Relapse Prevention: A Feasibility Pilot Study Adult alcohol-dependent graduates of an intensive outpatient program | 2008 | Prospective case series | n = 19 |
| How does it feel to lack a sense of boundaries? A case study of a long-term mindfulness meditator. A single long-term mindfulness practitioner (S) with 40 years of practice in... | 2015 | Qualitative case study | n = 1 |
| Loving‐kindness meditation to enhance recovery from negative symptoms of schizophrenia Individuals suffering from schizophrenia-spectrum disorders with persistent negative... | 2009 | Case study | |
| Mindfulness-Based Cognitive Therapy for Problem Gambling A female problem gambler | 2011 | Case study | n = 1 |