Hubungan tingkat stres dan sleep hygiene dengan kejadian sleep paralysis pada mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala
Fitriah Rizki, Zahratul Aini, Jufitriani Ismy
JKS October 17, 2025 DOI: 10.24815/jks.v22i2.25966 (opens in new tab) via DOAJ
Summary
AI-generated from the abstractSleep paralysis is a parasomnia occurring during REM sleep, marked by an inability to move voluntary muscles, sometimes with hallucinations. Medical students face high academic pressure, increasing stress, a risk factor for sleep paralysis. This study examined the relationship between stress levels and sleep hygiene with sleep paralysis among medical students at Universitas Syiah Kuala. Using DASS 42, Sleep Hygiene Index, and modified Unusual Sleep Experience Questionnaire, 253 students were surveyed. Results showed 49% had no stress, 17% mild, 21.3% moderate, 10.7% severe, and 2% very severe stress. Among stressed students, 87.4% had experienced sleep paralysis. Sleep hygiene was moderate in 54.2% and poor in 8.7%. Chi-Square tests indicated significant associations between stress levels and sleep hygiene with sleep paralysis.
Study at a glance
| Characteristics | Cross-sectional study Peer reviewed |
|---|---|
| Sample size | 253 |
| Population | Medical students at Universitas Syiah Kuala |
| Keywords | Sleep paralysis Stres Sleep hygiene |
| Key finding | There was a significant association between stress levels and sleep hygiene with the occurrence of sleep paralysis among medical students. |
Abstract
Sleep paralysis termasuk kedalam salah satu gangguan tidur parasomnia yang terjadi pada fase tidur rapid eye movement (REM) yang ditandai dengan tidak mampunya seseorang untuk menggerakkan otot volunter tubuh yang bisa diikuti dengan adanya halusinasi. Mahasiswa kedokteran rentan mendapatkan tekanan akademis yang tinggi selama perkuliahan, sehingga dapat menyebabkan meningkatnya tingkat stres yang menjadi faktor risiko terjadinya sleep paralysis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dan sleep hygiene dengan kejadian sleep paralysis pada mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala. Variabel pada penelitian diukur dengan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42), Sleep Hygiene Index (SHI) dan Unusual Sleep Experience Questionnare (USEQ) yang telah dimodifikasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observational dan rancangan cross-sectional. Teknik sampling penelitian menggunakan teknik proportional random sampling dengan jumlah sampel 253 responden. Data penelitian menunjukkan 49% mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala tidak mengalami stres, 17% stres ringan, 21,3% stres sedang, 10,7% stres berat dan 2% stres sangat berat. Dari mahasiswa yang mengalami stres ternyata sebanyak 87,4% pernah mengalami sleep paralysis. Responden yang memiliki praktik sleep hygiene yang sedang sebanyak 54,2% dan buruk 8,7%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan sleep hygiene dengan kejadian sleep paralysis.