Skip to content

Yoga Bala Kanda, Dalam Ajaran Ramayana Sebagai Media Pendidikan Yoga Dalam Mencapai Kesehatan dan Karakter Mindfulness

Anak Agung Aditya Adnyana Adnyana

Sang Acharya: Jurnal Profesi Guru September 20, 2026 DOI: 10.25078/sa.v7i2.6556 (opens in new tab)

Study at a glance

AI-extracted from the abstract
Characteristics Theoretical or philosophical paper Peer reviewed
Topics Meditation
Key points Argues that Bala Kanda from the Ramayana, particularly its account of Rama's education under Rsi Wiswamita, can serve as a medium of yoga education for cultivating mindfulness. The author proposes examining this through Hans Robert Jauss's reception theory and addresses the body and "Sapta Cakra," sun-salutation yoga, and the "Panca Sradha" as related to awareness.

Abstract

Kesadaran merupakan pencapaian manusia tertinggi dalam rangka mencapai tujuan akhir dalam ajaran agama Hindu yang disebut moksa. Namun kesadaran tidak saja untuk mencapai akhir perjalan hidup manusia, justru kesadaran perlu dilatih selama manusia hidup di dunia. Salah satunya melalui refleksi yang dikutip dari Tattwa atau ajaran agama Hindu yang diambil dari sastra suci Wedha. Dalam Tattwa dikenal banyak sub bagian sastra-sastra yang membahas tentang satua, atau cerita, dalam satua tersimpan sebuah pesan bahwa orang-orang pengkonsumsi satua, maka akan menjadikan mereka sosok yang satwam. Satwam dalam keyakinan agama Hindu merupakan idiom ajaran yang menghadirkan dampak kebaikan pada manusia. Salah satu ajaran sastra yang dapat menghaluskan kesadaran manusia adalah yang terdapat dari itihasa yakni Ramayana. Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki, pada saat hatinya gelisah melihat burung kraunca yang pasanganya terbunuh oleh seorang pemburu dan sedih. Pesan kesedihan tersebut menjadi 7 buah Kanda yang salah satunya adalah Bala Kanda. Dalam Bala Kanda tersurat cerita awal dari kisah Ramayana. Kitab Balakanda menceritakan Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Prabu Dasarata berputra empat orang, yaitu: Rama, Bharata, Lakshmana dan Satrughna. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama berhasil mengenyam pendidikan di pasrama Rsi Wiswamita, dalam proses pendidikan tersebut terdapat ajaran-ajaran yoga, sebagai media penyadaran manusia. Dari uraian di atas dapat diberikan jawaban atas pertanyaan: (1) Mengapa Tubuh dan Sapta Cakra Sebagai Media Mencapai Mindfulness. (2) Bagaimana Proses Yoga Menyembah Surya Dalam Mencapai Mindfulness. (3) Apa Implikasi Panca Sradha Dalam Mencapai Mindfulness. Dalam hal ini kesadaran menjadi isue utama dalam tulisan ini, maka untuk membedah ketiga pertanyaan di atas menggunakan teori Resepsi dari Hans Robert Jauss (1967) Menurut Jauss telah mencoba menemukan cara-cara yang berbeda, sejarah sastra sebagai rangkaian tanggapan pembaca, yang dikenal sebagai teori resepsi. Resepsi sinkronis yang paling mudah dilakukan melalui tanggapan siswa, mahasiswa atau orang-orang yang dengan sengaja dikelompokkan dalam rangka memberikan penilaian terhadap karya sastra. Dalam hal ini karya sastra Bala Kanda, bagian dari Ramayana. Dengan demikian maka penulis menguraikan tentang ”Bala Kanda, Dalam Ajaran Ramayana Sebagai Media Pendidikan Yoga Dalam Mencapai Mindfulness (kesadaran pada saat ini)”. Kata Kunci: Bala Kanda, Sebagai Media Pendidikan Yoga Dalam Mencapai Mindfulness

Comparable studies

Other theoretical and historical papers on meditation, most cited first.

Explore topics